Selasa, 23 Agustus 2016

PENCAK 4 JAM (kembali) MENEGUHKAN ISTIMEWA

Aksi Pesilat dari Persaudaraan Rumpun Setia Hati dalam Pencak 4 Jam
Masih dalam suasana menyambut hari kemerdekaan, 20 Agustus 2016 kemarin Monumen Serangan Oemom (SO) 1 Maret kembali menjadi saksi keistimewaan Yogyakarta. Jika di masa lampau Monumen SO didirikan untuk memperingati perjuangan para pahlawan dalam meneguhkan kedaulatan NKRI, maka pada hari sabtu lalu (20/08/2016) Monumen SO menjadi saksi perjuangan para praktisi silat tradisi untuk meneguhkan kembali akar budaya Indonesia yaitu Pencak Silat. ± 500 pendekar dari 33 Perguruan Silat di Yogyakarta dan diluar Yogyakarta saling bergotong-royong, bahu-membahu membangun semangat kebersamaan, kekeluargaan dan keindahan Pencak Silat yang dikemas dalam suatu pertunjukan seni.
Beragam aliran silat bisa kita nikmati, mulai dari maen poekoelan permainan khas betawi yang diwakili dari Tenabang dan Beksi, permainan silat buhun (sunda) yang diwakili maenpo cikalong, syahbandar, gerak gulung budi daya, permainan silat kalimantan diwakili oleh Kuntao Patikaman, Permainan silat madura dipresentasikan oleh Cakra-V, Permainan silat mataraman yang diwakili oleh aliran Tejakusuman seperti Perpi Harimurti, POPSI Bayu Manunggal, dan masih ada beberapa aliran lain dari Yogyakarta seperti Bangau Putih, Wahyu Sejati, Bhineka Tunggal Sakti, PSTD dan Satriatama. Ada juga aliran Setia Hati yang diwakili oleh Persaudaraan Rumpun Setia Hati (PRSH), SH Tunas Muda Winongo dan SH Pilangbango (PSHP), permainan silat dari dataran dieng Wonosobo dipresentasikan oleh Krida Yudha Sinalika, permainan silat dari lereng ungaran diwakili oleh Tunggal Dulur dan beberapa perguruan besar yang sudah kita kenal namanya seperti Merpati Putih, Perisai Diri, Tapak Suci, Pagar Nusa, IKS PI Kera Sakti dan Persinas ASAD pun tak ketinggalan untuk terlibat dalam kegiatan di akhir pekan lalu. Tidak hanya dari Pencak Silat, beberapa beladiri lain pun terlibat dalam kegiatan yang bertajuk Pencak 4 Jam kemarin seperti Capoeira, Ninjutsu, Aikido, Piper dan tenaga dalam Asyaba.
Maenpo Cikalong sedang memeragakan permainannya
Kegiatan Pencak 4 Jam yang diselenggarakan oleh Paseduluran Angkringan Silat (PAS), Tangtungan Project yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Yogyakarta dan IPSI Kota Yogyakarta benar-benar meneguhkan keistimewaan Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya di Indonesia. Banyak cerita istimewa yang terjadi dalam gelaran tersebut, diantaranya 1) kegiatan yang digelar pada titik 0 Km tersebut dapat menarik animo masyarakat Kota Yogyakarta dan wisatawan yang sedang menikmati liburan di Kota Yogyakarta dari sore hingga malam para penonton berjubel sambil menikmati “Angkringan” gratis yang disediakan panitia. 2) Pencak 4 Jam ibarat seperti mini maps nya aliran silat di Indonesia, dari gelaran sabtu lusa lalu kita bisa melihat beragam permainan seperti betawen, sunda, kuntao tanpa harus kita mendatangi satu-satu ibaratnya seperti “one stop shopping”, 3) berkumpulnya para pendekar untuk saling menekan egosentris perguruan dan bersama “meneguhkan” Pencak Silat sebagai akar budaya bangsa tentu saja perlu kita berikan apresiasi setinggi-tingginya, 4) gelaran kemarin pun menyimpan kisah heroik perjuangan adik-adik PRSH dari MTS El-Bayan Majenang yang harus berganti sampai dengan 3 moda transportasi dikarenakan adanya kerusakan teknis pada bus yang akan digunakan untuk menuju Yogyakarta hanya demi penampilan 3 menit yang sudah lama dipersiapkan, 
Tapak Suci Yogyakarta sedang memeragakan aksinya
5) dalam pagelaran yang ditunjukkan, kita pun bisa melihat suatu “anti tesis” antar aliran silat misal permainan unik Maenpo Cikalong yang digawangi oleh Abah Azis Asyari’e dengan permainan syahbandar dari Bp. Bambang Kurniawan. Meskipun keduanya sama-sama melestarikan permainan sahbandar, maenpo cikalong identik dengan menempel agar kaidah-kaidah didalamnya dapat dilakukan (Madi, Sahbandar, Kari) sedangkan Sahbandar yang diperagakan oleh Bp Bambang Kurniawan dengan rasa anggang atau dengan tidak menempel atau tanpa ada kontak dari lawan. 6) berkumpulnya para tokoh masyarakat Kota Yogyakarta memberikan tanggapan terkait kegiatan ini pun juga merupakan hal yang menarik, karena Pencak Silat dapat menyedot perhatian beliau-beliau dan kita berharap tentunya pemikiran-pemikiran dan kontribusi terhadap pengembangan Pencak Silat dapat bertambah khususnya di Kota Yogyakarta. 7) di sekitaran area Monumen SO, masing-masing membentuk lingkaran-lingkaran kecil dimana terjadi interaksi antar pesilat untuk saling bertukar ilmu antar aliran, tentu saja ini pemandangan yang indah dan sangat dibutuhkan kedewasaan dari masing-masing pribadi para pendekar.
Setelah serangkaian acara pagelaran dan seremoni, akhirnya acara ditutup dengan sajian dahsyat dangdut koplo sebagai pemuncak acara, tak ayal penonton pun semakin puas dengan rangkaian kegiatan yang disajikan....Singkat cerita Jogja Istimewa...Pencak Silat (kembali) Meneguhkan ke-Istimewaan Yogyakarta....tepat rasanya jika ada lirik dari Group Hiphop Jogja Foundation “Jogja...Jogja...tetap istimewa...Jogja Istimewa untuk Indonesia
Animo Masyarakat Yogyakarta..larrrrr byasah

Senin, 22 Juni 2015

BIOGRAFI Singkat Bp. Drs. H. Mochammad Ngemron, MS.Psi.



“Sang Kupu-Kupu”
yang terus mengepakkan sayap indahnya 
ditengah cibiran, hujatan dan pujian  


 


Profil pribadi 
Mochammad Ngemron dilahirkan di Juwangi pada 7 April 1947, setelah menamatkan SR beliau mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah Menengah Pertama Swasta (SMP) di Kota Yogyakarta setelah menamatkan pelajaran SMP, beliau melanjutkan pendidikan ke SMA Pendidikan Islam Republik Indonesia (PIRI), saat itu beliau mengikuti pamannya yang berada di Yogyakarta. Pendidikan sejak kecil yang ditanamkan oleh Ayahnya (dikenal dengan sebutan Kyai Tlawah)  yang tidak lain seorang tokoh agama setempat, membawa Moch. Ngemron kecil tumbuh sebagai remaja yang gemar mendalami ilmu agama dan aktif di organisasi kepemudaan yang bernafaskan Islami. Menurut keterangan dari Bp. Djoko Koentjoro, diceritakan semenjak usia SMP Bp. Mochammad. Ngemron sudah dikenal sebagai aktivis dan tokoh dari Organisasi Pemuda Islam Indonesia (PII) Kota Yogyakarta saat itu. Ditambahkan oleh salah seorang putra angkat beliau Mas Sriyono, beliau aktif di Organisasi PII semenjak SMP sampai dengan beliau duduk di bangku kuliah di Universitas Gajah Mada.

Pada tahun 1975 setelah berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas Gajah Mada sebagai Sarjana Psikologi. Beliau sempat terlibat pada proyek penanganan pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Pada tahun 1980 beliau mulai pindah dan bertempat tinggal di Desa Tegalgondo masuk di wilayah Delanggu, Klaten. Pada tahun-tahun ini beliau sudah berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan status Dosen yang dipekerjakan (ditugaskan) di IKIP Muhammadiyah Surakarta. Pada tahun-tahun tersebut merupakan tahun mulai dirintisnya pendirian Universitas Muhammadiyah Surakarta, akhirnya pada tahun 1983 Bp. Mochammad Ngemron dan rekan-rekan sejawatnya Psikolog mulai merintis beridirinya Fakultas Psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sampai dengan saat ini Bp. Mochammad Ngemron tercatat tidak hanya sebagai perintis namun juga pengembang dari Fakultas Psikologi yang didirikan olehnya. Sejak tahun 1992 sampai dengan 1998 beliau menjabat sebagai dekan di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
         Mas Ngemron dan putra
Bp. Mochammad Ngemron menikah dengan Ibu Misriyati Marmini pada tahun 1980, dari perkawinannya beliau dianugerahi dua putera yaitu Wahid Husni Utomo,S.Pd. (Gugud) dan Muhammad Isnain Wiyasatama, ST. (Wiwis). Selain putra kandung beliau juga memiliki cukup banyak putra angkat. Dua diantaranya yang kita kenal adalah Mas Sriyono dan Michael Waldow. Mas Gugud saat ini dinas di Blora sebagai Guru Olahraga, Mas Wiwis sebagai staff PJB (Pembangkit Jawa Bali) yang sedang bertugas di Muara Enim, Palembang. Mas Sriyono sebagai dosen di Universitas Trunojoyo, Madura (saat ini sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas Gajah Mada) dan Michael Waldow yang tinggal di Belanda. 



Makam Bp.Moch.Ngemron di Tegalgondo,Delanggu
  Pada tahun 1992 Bp. Mochammad Ngemron pindah dari Desa Tegalgondo dan mulai tinggal di Desa Lemusir, Pabelan, Kartasura, dekat dengan Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta tempat beliau mengadi sebagai tenaga pengajar pada universitas tersebut. Pada tahun 2013 seiring dengan betambahnya usia, maka kesehatan Bp. Mocahmmad Ngemron dan Istri Misriyati Marmini semakin menurun. Keduanya memiliki riwayat penyakit Diabetes Melitus (DM),Hipertensi dan Jantung.  Pada tanggal 28 Juli 2013 setelah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Dr. Moewardi Solo, Ibunda dari Mas Gugud dan Mas Wiwis harus berpulang ke Rahmatullah meninggalkan Bp. Mochammad Ngemron. Pasca berpulangnya istri terkasih, terlihat kegamangan beliau seperti kurang bersemangat dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Berbagai support dan dukungan moril terus diberikan kepada beliau baik itu dari pihak keluarga maupun kolega-kolega beliau untuk membangkitkan semangat beliau. Pada awal tahun 2014, kondisi kesehatan beliau semakin membaik. Bahkan pada waktu itu berbagai kegiatan Pencak Silat diikuti dan digelar di rumah beliau di Lemusir. Menurut penuturan Bp. Sumina Danunagara, di awal tahun rentang bulan Januari sampai dengan Februari beliau sangat bersemangat sekali untuk membagikan berbagai keilmuwan beliau mulai dari keilmuwan trap I sampai dengan keilmuwan trap II Setia Hati. 

Prosesi Pemakaman Bp.Moch.Ngemron
Berita mengejutkan datang di tanggal 3 Maret 2014, beliau dilarikan ke RS Dr.Oen Sawit Boyolali dikarenakan jatuh pingsan terkena serangan jantung. Setelah melalui obeservasi dan dinyatakan keadaan semakin memburuk, maka beliau dipindahkan ke RS Dr.Oen Solobaru pada tanggal 4 Maret 2014 dan langsung mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU. Setelah mendapatkan perawatan secara maksimal akhirnya pada hari Rabu dini hari  tanggal 5 Maret 2014 Bp Drs.H.Mochammad Ngemron, M.S.Psi menghembuskan nafas terakhirnya di dunia. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Desa Tegalgondo, Delanggu,Klaten berdekatan dengan makam istri terkasihnya yang telah mendahului beliau. Pada prosesi pemakaman beliau, terlihat banyak sekali tamu yang datang mulai dari para aktifis dan praktisi pencak silat, praktisi Yoga, para budayawan, agamawan yang mengiringi kepergian beliau. Para praktisi silat yang hadir selain dari kalangan internal Persaudaraan Rumpun Setia Hati, hadir pula beberapa pengurus IPSI Kota Surakarta dan beberapa tokoh dari aliran SH lainnya seperti Bp. Trinowo (Ketua PB Persaudaraan Setia Hati), Bp. Djoko Koentjoro, Bp. Slamet Riyadi (keduanya merupakan Dewan Sepuh Persaudaraan SH Pilangbango), Mas Abas Nurhadi (Magelang), Bp. Arti Siswoyo (Jakarta), beberapa Kadang sepuh SH Terate Yogyakarta seperti Bp. Sulardjo, Bp.Djoko Sumaryono (Semarang) dan beberapa sesepuh SH Terate Solo seperti Bp. Trimin, Bp. Arif Hudayanto, Bp. Mandiono, Mas Mamok (Karanganyar).

1. Dunia Persilatan
Bp. Mochammad Ngemron pertama kali belajar pencak sejak kecil diajarkan langsung oleh ayahnya yang dikenal sebagai Kyai Tlawah. Menurut Bp. Djoko Koentjoro, Kyai Tlawah tidak hanya tokoh desa setempat beliau juga memiliki beberapa keilmuwan yang bersifat kanoman (kanuragan). Setelah berpindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) beliau mulai mengenal silat dan belajar silat aliran Setia Hati. Pertama kali belajar silat beliau pernah dilatih oleh Mas Sis dan Mas Warno (Bausasran) keduanya merupakan kadang SH Terate Yogyakarta. Seperti remaja kebanyakan Mochammad Ngemron kecil pun pernah memiliki fase-fase kenakalan, diceritakan oleh Bp. Djoko Koentjoro saat itu Bp.Warno sudah menyerah dan tidak sanggup dengan ndablegnya Mochammad Ngemron kecil saat itu. Atas ijin Bp. Salyo (sesepuh SH Terate Yogyakarta) akhirnya Bp. Warno menyerahkan kepada Bp. Djoko Koentjoro untuk melanjutkan pelatihan Mochammad Ngemron.

Proses pelatihan dengan Bp.Djoko Koentjoro saat itu dimulai pada tahun ± 1964. Setelah dua tahun dibimbing oleh Bp. Djoko Koentjoro, pada tahun 1966 beliau diantar oleh Bp. Djoko Koentjoro untuk dikecer di Madiun. Pasca dikecer di tahun 1966 beliau diminta oleh Bp Djoko Koentjoro untuk membantu mengembangkan SH Terate di Yogyakarta, dikarenakan Bp. Djoko Koentjoro sendiri sudah mulai disibukkan dengan jadwal kuliah di Universitas Gajah Mada saat itu dan ingin fokus dalam kuliahnya. Bp. Mochammad Ngemron sendiri mulai aktif mengembangkan SH Terate di Yogyakarta dari rentang 1966 s.d 1973. Pada tahun-tahun tersebut Bp. Mochammad Ngemron melatih di daerah Macanan dekat tempat tinggal beliau di Yogyakarta. Pada tahun 1973, setelah mengantarkan beberapa siswanya untuk dikecer di Madiun, salah satunya adalah Mas Djoko Sumaryono pada tahun 1974 Bp. Mochammad Ngemron mulai mengurangi kegiatannya untuk melatih silat dan fokus pada pendidikan beliau di Universitas Gadjah Mada yang saat itu sudah memasuki tingkat III. (saat itu belum ada istilah semester, 1 Tingkat sama dengan 2 semester saat ini). Beberapa siswa beliau yang kita kenal saat ini diantaranya Bp. Sulardjo (Lempuyangan) dan Bp. Djoko Sumaryono (Semarang). Sedangkan menurut Bp. Sulardjo beberapa rekan seangkatan yang juga pernah dilatih Bp. Mochammad Ngemron di tahun 1968 diantaranya Mas Peni (alm), Mas Sugeng (Mataram,Lombok), Mas Ngaib, Mas Triyono (alm).
Tiga Serangkai pelestari ajaran Bp.Hasan Djojoadisuwarno
Hubungan yang sudah sangat lekat antara Bp Djoko Koentjoro dan Bp Moch.Ngemron saat itu, menjadikan masing-masing memiliki hubungan istimewa dengan keluarga besar masing-masing. Saat itu diceritakan Bp. Djoko Koentjoro dianggap sebagai anak dari Kyai Tlawah (Ayah Bp. Moch. Ngemron) dan Bp. Moch.Ngemron juga sudah dianggap anak oleh KRHT. Kusumatanaya seorang ahli spiritual yang sangat di hormati di Kasunanan maupun Puro Mangkunegaran pada masanya (Ayah dari Bp. Djoko Koentjoro). Keduanya lalu bertemu dan berkenalan dengan Bp. Hasan Djojoadisuwarno, dan mendalami Ilmu Setia Hati dibawah bimbingan beliau. Pada Tahun 1970 Bp Djoko Koentjoro mempersunting putri dari Bp. Hasan Djojoadisuwarno, hal ini tentu saja semakin mempererat hubungan keduanya tidak hanya sebatas Guru-Murid / kadhang sepuh-kadang anem melainkan hubungan antara ayah dan anak, tidak hanya Bp. Djoko Koentjoro sebagai putra mantu, tetapi juga Bp. Mochammad Ngemron yang tidak lain sudah dianggap adiknya sendiri. Dalam perjalanan waktu, Bp. Mochammad Ngemron semakin dekat hubungannya dengan Bp Hasan Djojoadisuwarno (nyantrik) dan alhasil Bp. Mochammad Ngemron dikecer Trap II (Tweede Trap) di Kartasura di kediaman Bp. Hasan Djojoadisuwarno dengan disaksikan oleh Bp Murtadji Wijaya *penuturan dari saksi mata langsung Bp. (Alm). Peter Suwarno (Cokrotulung). Dan pada tahun ± 1984 Bp Moch.Ngemron disahkan/dikecer Trap III (derde trap) oleh Bp Hasan Djojoadisuwarno di Kartasura dengan disaksikan oleh Bp. Murtadji Wijaya dan Bp. Djoko Koentjoro.
 Pada bulan April Tahun 1988, Bp. Mochammad Ngemron mengikuti Bp Hasan Djojoadisuwarno ke Cilacap untuk melakukan keceran. Pada tahun ini ditengarai sebagai proses awal merapatnya SH PSC dari Jalur Bp. Hasan Djojoadisuwarno untuk bergabung dengan Persaudaraan Setia Hati yang saat itu dipimpin oleh Bp. Mashadi sebagai ketua umum. Pada keceran di Bulan April tahun 1988 dan Bulan Juni 1988 di Cilacap saat itu juga dihadiri Bp. Mashadi, dan beliaunya menyampaikan saat itu menerima murid-murid Bp Hasan untuk melakukan penggabungan (unifikasi) dengan Persaudaraan Setia Hati.
Keceran Thn'88 di Cilacap dihadiri Bp. Mashadi
Hubungan dengan Pengurus Besar Persaudaraan Setia Hati tetap berlanjut meskipun pada tahun 1989 Bp. Hasan Djojoadisuwarno meninggal dunia. Proses penggabungan dengan Persaudaraan Setia Hati dilanjutkan oleh Bp. Mochammad Ngemron sebagai amanat dari Bp Hasan, yaitu memperdalam keilmuwan Setia Hati yang diajarkan oleh Bp. Munandar. Proses penggabungan ini akhirnya secara resmi diterima oleh PB Persaudaraan Setia Hati dengan dikeluarkannya Surat Keputusan pada tahun 1994. Setelah sekian tahun bersama di penghujung tahun 2012, perbedaan pendapat semakin memuncak hal ini dikarenakan perbedaan kultur antara PB Persaudaraan Setia Hati yang dipimpin oleh Bp Trinowo dengan Bp. Mochammad Ngemron akhirnya muncullah Surat Keputusan (SK) dari PB Persaudaraan Setia Hati yang menganulir keanggotaan eks SH PSC dari Bp Hasan Djojoadisuwarno. Keputusan yang diambil oleh PB Persaudaraan Setia Hati ternyata tidak serta merta didukung oleh beberapa Cabang Persaudaraan Setia Hati. Tercatat 18 Cabang dari Persaudaraan Setia Hati justru memberikan dukungan moral kepada Bp. Mochammad Ngemron dan mendorong untuk segera membentuk wadah baru. Dengan berbekal perasaan legawa dan dalam rangka menjaga amanat dari Bp. Hasan Djojoadisuwarno serta didukung sepenuhnya oleh 18 Cabang Persaudaraan Setia Hati.
Pendiri Persaudaraan Rumpun Setia Hati
Maka pada tanggal 23 Juni 2013 bertempat di Kota Surakarta, diselenggarakanlah Kongres yang diikuti oleh 18 Cabang Persaudaraan Setia Hati untuk membentuk wadah baru yang diberi nama Persaudaraan Rumpun Setia Hati dan menetapkan Bp. Drs. H. Mochammad Ngemron, MS.Psi (Kanjeng Pangeran Yogiswara Suryadiningrat) sebagai pendiri.

2..    Akademisi ,Budayawan dan Tokoh Lintas Agama (Kerukunan Antar Umat Beragama)
a.    Akademisi
Bp. Moch.Ngemron dan Michael W
Bp. Mochammad Ngemron dikenal sebagai akademisi yang aktif mengajar sebagai salah satu dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Beliau merupakan salah satu penggagas, pendiri dan pengembang fakultas tersebut hingga mengalami kemajuan pesat seperti sekarang. Beliau dikenal Guru Besar Psikologi di UMS dan salah satu karya monumental beliau yang hingga saat ini masih ada adalah buku Psikologi Islam yang ditulis oleh beliau dan rekannya Bp. M.Thoyibi di tahun 1996. Melalui karyanya tersebut dan dimulai di Tahun 1994 melalui Simposium Nasional Psikologi Islami 1 di UMS beliau dikenal sebagai salah satu pencetus Psikologi Islam di Indonesia. Hingga saat ini Psikologi Islam menjadi kurikulum wajib di Fakultas Psikologi UMS. Salah satu gagasan munculnya psikologi Islami saat itu dikarenakan ketika keilmuwan psikologi banyak menyadur dan mengambil referensi dari pemikiran sekuler dunia barat, maka Bp. Mochammad Ngemron dengan gagasannya memunculkan teori-teori psikologi  dimana semuanya diambil dari nilai-nilai yang ada di Islam sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber hipotesis. Tentunya hal ini lebih sesuai dengan kultur Indonesia dan Asia pada umumnya dimana diketahui di Asia aspek agama merupakan dasar hidup manusia, dan berbeda dengan dunia Barat yang cenderung mengesampingkan peranan agama. Dengan kata lain Psikologi Islam lahir sebagai antitesis terhadap Madzhab Psikologi Barat Modern. Selain Psikologi Islam, sebetulnya Bp. Mochammad Ngemron memunculkan juga teori-teori Psikologi yang berbasis pada budaya Jawa, namun teori ini sayangnya kurang begitu populer seperti terobosan beliau tentang Psikologi Islam.
Tidak hanya dikenal sebagai ahli ilmu Psikologi, Bp. Mochammad Ngemron juga memilikli wawasan yang luas di bidang Filsafat. Hal ini terlihat ketika beliau sudah memasuki purna tugas (pensiun) sebagai dosen tetap, beliau pun masih diminta sebagai pengajar Mata Kuliah Filsafat di Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
b.        Budayawan, Yogi, dan Tokoh Lintas Agama (Kerukunan Antar Umat Beragama)
KP  Yogiswara Suryadiningrat
Di Kota Surakarta sosok Bp. Mochammad Ngemron dikenal juga sebagai seorang budayawan. Beberapa kali saya pernah bertemu beliau dalam dialog budaya dan filsafat yang ada di Kota Surakarta. Bahkan di rumah beliau di Desa Lemusir, Pabelan juga rutin digelar beberapa kegiatan yang bersifat nguri-nguri (melestarikan-red) budaya jawa seperti karawitan,  dialog /sarasehan budaya jawa seperti medhar Serat Wulangreh, Wedhatama, dan berbagai serat serta suluk. Kegiatan karawitan yang ada di Lemusir, Pabelan biasanya diisi dan diikuti oleh warga sekitar Pabelan. Sedangkan kegiatan dialog/sarasehan budaya Jawa diikuti oleh berbagai orang dari  beberapa tempat di Kota Surakarta yang dikenal dengan kelompok Yogiswaran.
Tidak hanya kegiatan karawitan dan pencak silat, di Pabelan semasa Bp. Mochammad Ngemron masih sehat, beliau juga membuka training Yoga bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Di masa hidupnya beliau dikenal sebagai seorang Yogi/ Ahli Praktisi Yoga  di Kota Surakarta, ibarat pepatah buah jatuh tak kan jauh dari pohonnya putra-putra beliau seperti mas Wahid Gutomo (Gugud) dan Mas Sriyono pun juga dikenal sangat menggemari olahraga ini,  menurut penuturan Mas Gugud acapkali mereka berdua juga mengajar para mahasiswa untuk latihan Yoga jika Bp. Mochammad Ngemron sedang berhalangan hadir atau sedang ada kesibukan di luar.
aktif mengajarkan Yoga pada Mahasiswa
Meskipun dikenal sebagai seorang yang memiliki pengetahuan luas, tidak semua orang bisa menerima pemikirannya, misalnya tentang tafsir  hukuman Potong tangan dalam Islam sebagai pencuri, menurutnya perintah itu tidak serta merta harus memotong tangan namun yang dipotong adalah komunikasi perbuatannya agar tidak lagi mencuri sehingga harus dihukum diberi pelajaran. ”Begitu juga dengan hukuman potong lidah bukan berarti lidahnya yang dipotong tapi komunikasinya yang dipotong agar jangan banyak omong. Saya mungkin disalahkan banyak orang tapi bagi saya Islam itu agama yang penuh kasih sayang bukan agama yang sadis” (Solopos,27/05/2011). Contoh-contoh pemikiran seperti yang telah dikemukakan yang membedakan beliau dan karena hal inilah pemikiran-pemikiran beliau ini dapat diterima oleh para pemeluk agama lainnya dan sering terlibat dalam dialog antar umat beragama lainnya. Beliaupun juga dikenal baik oleh para komunitas Penghayat Kepercayaan, sebagai seorang yang mampu mengurai petuah-petuah jawa yang biasa dikenal dengan gugon tuhon namun dapat dijabarkan secara rasional (kasunyatan).
Secuil biografi singkat ini merupakan permulaan untuk menyusun sejarah tentang sosok pendiri Persaudaraan Rumpun Setia Hati yaitu Bp. Drs. H. Mochammad Ngemron, MS.Psi. dan titik tolak untuk mengurai tentang gagasan-gagasan beliau mengenai ungkapan-ungkapan / filosofi hidup yang diajarkan. Dari secuil cerita ini menggambarkan sosok beliau dimana sampai akhir hayatnya terus melestarikan dan  mengembangkan Pencak Silat yang sudah menjadi bagian dari diri dan kehidupannya namun tidak lupa untuk tetap berkarya memberikan andil dan warna di dalam kehidupan sesuai dengan jalur keilmuwan yang dimiliki..#Urip iku Urup

“saya tidak ingin berteriak agar orang-orang mendatangi saya, sama seperti bunga mawar yang indah dan wangi yang juga tak pernah berteriak namun justru banyak kumbang berdatangan menyerap madunya” (Mochammad Ngemron, 2011)


Terima kasih atas data yang diberikan kepada :
1. Wahid Husni Utomo, S.Pd (Putra)
2. Bp. Djoko Koentjoro (Jaten)
3. Bp. Djoko Sumaryono (Semarang)
4.Bp.Sulardjo (lempuyangan)
5. Bp. Kresna Budaya (Boyolali)
6.Bp. Pri yanto (Palembang)
7.Bp. Sumina Danunagara (Surakarta) 

Dan sumber-sumber internal :

1.    Kangmas Edi R

2.    Kangmas Sugeng

3.    Kangmas Galing Bondan Tanaya

4.    Kangmas Aryo Subroto
5.    Bp. (Alm) Warno (Cokrotulung)
6.  Kangmas Sriyono