Rabu, 02 April 2014

Cakra Manggilingan : Esensi dan Konsepsi



Cakra diartikan seperti cakram / roda. Manggilingan berasal dari kata giling;bahasa jawa (berputar/menggerus). Cakra manggilingan gambaran dari cakram/roda yang berputar. Dalam khazanah cerita pewayangan Cakra Manggilingan atau cakra yang berputar dikenal sebagai senjata andalan Sri Kresna yang disebut Kalacakra. Esensi dari cakra manggilingan ini adalah waktu. Ya waktu lah yang membuat semuanya terjadi. Perubahan-perubahan yang terjadi sudah menjadi kodrat manusia ketika tercipta melalui dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Kejadian-kejadian yang akan dialami semuanya hanya tinggal menunggu waktunya terjadi. Konsepsi waktu sangatlah penting, bahkan kehidupan manusia di dunia pun dibatasi oleh waktu. Ketika masanya tiba, maka kita pun akan melepaskan raga / badan wadag ini. Yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah dan yang berasal dari Causa Prima akan kembali kepadaNya. Innalillahi wa innailayhi roji’un. Bahkan tentang waktu sendiri pun diabadikan dalam Al-Qur’an1 :

Wal-‘asr(i) [1] Innal-insana lafi khusr(in) [2] illal-lazina amanu [3] wa ‘ amilus-salihati wa tawasau bil-haqq(i), wa tawasau bis-sabr(i)

[1] Demi Masa ; [2] Sungguh manusia dalam kerugian ; [3] kecuali orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Setiap proses perjalanan hidup manusia akan selalu terikat dengan waktu. Hidup itu seperti roda yang berputar, demikian yang sering kita dengar dari para orang tua kita dahulu. Kenyataan dan faktanya memang demikian, salah satu contoh sebutlah seorang Da’i yang cukup terkenal di negeri ini. Begitu beliau muncul sebagai da’i, dalam waktu yang tidak lama beliau pun terkenal seantero Indonesia. penyampaian beliau yang sangat enak didengar dan menyejukkan hati para pendengar, tak urung menjadikan beliau memiliki banyak penggemar dari semua lapisan umur dan lapisan masyarakat. Tidak hanya dalam hal berdakwah, beliau pun mendapatkan keberlimpahan dari sisi bisnis beliau. Namun semuanya pun dalam waktu singkat runtuh ketika beliau mengambil keputusan yang tidak populer di masyarakat. Tidak hanya bisnis yang semakin menurun namun cacian, hinaan dan makian pun dituai akibat keputusan yang diambil. Namun sekarang, seiring dengan berjalannya waktu, sang Da’i pun muncul kembali dan tetap menjadi sosok yang dirindukan umat untuk nasehat-nasehat yang diberikan. Sekelumit kisah diatas hanyalah contoh sebagai penggambaran tentang kehidupan manusia. Ada saatnya berada di atas, ada saatnya berada di bawah. Ada saatnya kita mendapatkan pujian, ada saatnya pula kita mendapatkan hujatan dan makian. Hal tersebut menunjukkan dalam perjalanan waktu, manusia selalu hidup dan berkembang sesuai dengan irama yang dimiliki masing-masing. Proses perjalanan hidup tersebut, dalam pandangan hidup orang Jawa disanepakan dalam istilah Cakra Manggilingan. Filosofi atau keyakinan berputarnya roda kehidupan baik mikro maupun makro disebut dengan Cakra Manggilingan. 

Kesadaran manusia Jawa akan pentingnya konsepsi waktu, diwujudkan salah satunya melalui penanggalan Jawa / Sistem Kalender Jawa. Jika kalender masehi hanya terdiri dari hari (senin, selasa, rabu, dst), bulan dan tahun. Berbeda halnya dengan penanggalan Jawa, penanggalan jawa memuat atau menampung dari beberapa sumber penanggalan yang sudah ada yaitu budaya Islam, Budaya Hindu-Budha  dan sedikit dari budaya barat. Dengan adanya serapan dari berbagai budaya tersebut, maka kita mengenal sistem kalender yang bertingkat dan sangat lengkap. Kalender Jawa terdiri dari hari yaitu sapta wara / 7 hari: Minggu (Radite), Senin (Soma), Selasa (Hanggara), Rabu (Budha), Kamis (Respati), Jum’at (Sukra) dan Sabtu (Tumpak) dan Panca wara / 5 hari dikenal dengan pasaran : Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Pertemuan antara siklus harian 7 hari dan 5 hari dikenal dengan istilah Pakuwon / Wuku. Satu wuku mempunyai usia 7 hari. Jadi dalam siklus 1 bulan terdapat 4 wuku, sedangkan wuku sendiri ada 30 nama.
Dalam siklus bulanan/sasi, Sistem Kalender Jawa memiliki 12 bulan yaitu Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, Besar. Penanggalan Jawa sebelumnya menggunakan Tahun Saka karena pengaruh Hindu-Budha saat itu, kemudian ketika di mulainya peradaban Islam di tanah Jawa tepatnya di Jaman Sultan Agung (1625 M), beliau merubah penanggalan Jawa lebih bernuansa Islami. perubahan tersebut dapat dilihat pada istilah penyebutan bulan/sasi ; bhs jawa. Sedangkan untuk angka tahun melanjutkan tahun Saka, bukan tahun Hijriyah hanya istilahnya di ganti dengan tahun Jawa. Saat itu penetapan Sistem Kalender Jawa pada tahun 1547 Saka, dilanjutkan menjadi 1547 Jawa.  Berbeda halnya dengan tahun masehi, yang hanya berhenti pada angka tahun. Sistem kalender jawa masih memiliki siklus diatas tahun yaitu Windu. Windu merupakan siklus 8 tahunan bagi masyarakat jawa, terdiri dari Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir, sedangkan siklus windu sendiri mempunyai 4 putaran (32 tahun jawa) yaitu Adi, Kuntara, Sangara dan Sancaya. Berkaitan dengan hal tersebut sangat jelas, jika masyarakat Jawa mempunyai kesadaran akan pentingnya Waktu, sehingga masyarakat Jawa dituntut untuk selalu siap dengan keadaan yang akan dihadapi, pada suatu saat kita mempunyai kebahagiaan, namun suatu saat pula kita akan menghadapi kesusahan. Ada kalanya kita dipuja-puja orang dan ada kalanya kita akan dicaci maki, dihujat oleh orang. Dengan memahami esensi Cakra Manggilingan yang tidak lain adalah waktu kehidupan yang terus berputar, maka kita bisa mempersiapkan diri kita untuk tidak larut dalam kebahagiaan atau kesedihan yang sedang dihadapi. Berlebihan dalam menikmati kebahagiaan bisa melupakan dan menyesatkan kita, bgitu juga sebaliknya jika terus larut dalam kesedihan maka kita hanya jalan ditempat dan tidak akan ada perubahan yang terjadi.

nggelemi kahanan (mau menerima kenyataan)  itulah kunci untuk mempersiapkan diri kita agar siap menghadapi kenyataan yang ada. Teori sederhana manusia jawa dalam meraih kebahagiaan hidup adalah saiki, neng kene, ngene, Aku Gelem!!(saat ini, disini, ditempat ini, saya bersedia).2 Apapun yang menjadi lelakon kita saat ini harus diterima dan dihadapi itulah kenyataan hidup di dunia, jadi konsep “menikmati” itu bukan hanya ketika kita sedang mendapatkan kebahagiaan/menerima rejeki yang melimpah saja. Ketika kita sedang menerima masalah pun harus diterima bukannya malah lari dari masalah atau sibuk menyalahkan orang lain. Itulah realita yang ada, manusia sibuk meghabiskan energi untuk mencari-cari kesalahan orang lain atau mengkambinghitamkan orang lain agar terhindar dari masalah. Padahal energi yang ada sebetulnya bisa disalurkan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Kira-kira begitulah yang ingin disampaikan Ki Ageng Suryomentaram dengan teorinya, apa yang kita alami saat ini adalah buah dari apa yang kita lakukan di masa lalu. Jadi tidak perlu buang-buang energi karena masa lalu adalah masa usang yang tidak mungkin bisa diulang jadi apapun yang terjadi saat ini harus dihadapi dan diterima (ngundhuh wohing pakarti). Begitu juga dengan masa depan, adalah masa yang tidak menentu, masa yang masih belum jelas dan penuh dengan ketidakpastian. Sehingga tidak perlu membuang-buang energi bahkan cenderung mengumbar nafsu / keinginan yang pada akhirnya membuahkan sikap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan. Lantas apa yang dilakukan agar masa depan bisa lebih baik dari sekarang? Jawabannya adalah Aku Gelem!! (saya bersedia), bersedia tentang apa?bersedia dengan apa yang dihadapi saat ini (nggelemi kahanan) atau dengan bahasa yang lain dikenal dengan sikap qanaa’ah3. Dengan memelihara pikiran yang positif yaitu menerima kenyataan dan melakukan yang terbaik untuk saat ini, tentu akan membuahkan hasil di masa depan insyaallah... Dengan kata lain masa depan ditentukan dari sikap dan pilihan kita saat ini,4 yang tentunya mempertimbangkan pengalaman di masa lalu. Manusia jawa dituntut untuk dapat melakukan “TRIWIKRAMA” dalam artian mampu mempertemukan tiga kekuatan yang ada dalam tubuh kita yaitu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.5 dengan demikian orang yang dapat mengambil pelajaran pada setiap masa yang telah dilalui dan saat ini  dapat menjadikan manusia yang memiliki pola pikir visioner sehingga mampu menyongsong masa depan yang lebih baik.
Dengan memahami esensi cakra manggilingan adalah waktu, maka manusia jawa diharapkan tidak akan terjerumus ketika mendapatkan bahagia maupun terpuruk ketika sedang mendapatkan musibah. Semua itu sudah menjadi ketentuan dan dinamika kehidupan bagi setiap manusia. Langgeng tan ana bungah tan ana susah5..demikian yang disampaikan leluhur kita, bahagia dan susah adalah dua hal yang harus dihadapi dan dijalani dengan suka cita. Bahagia dan susah semuanya merupakan manifestasi dari apa yang telah kita lakukan di masa lalu dan apa yang akan kita lakukan disaat ini.

Rahayu Sagung Dumadi....



1.  Q.S Al-‘Ashr [103;1-3]

2.   Ngelmu Bahagia Kia Ageng Surya Mentaram..”Saiki, Ing Kene, Ngene, Aku Gelem”

3.  “Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi & diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad & Al-Baghawy)
4.  QS. Ar-Ra’d ; 11 : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali  kaum itu sendiri merubah apa-apa yang ada pada mereka”
5. Dedhy Wilwaktika  “Takdir Kehidupan tentunya tidak dapat dihindari, tidak pula bisa diulang kebelakang ataupun dipercepat menuju masa depan. Karenanya dalam kebudayaan Jawa, kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna harus mempunyai kemampuan TRIWIKRAMA. Artinya kita harus mampu mempertemukan tiga kekuatan tesebut adalah Masa Lalu, Masa Kini dan Masa yang akan datang. Mereka yang mampu melakukan pembacaan pertanda alam yang diberikan Tuhan di tiga waktu itu yang akan mampu menjadi pemimpin utama. Kemampan pribadinya berubah berlipat kali, dipewayangan digambakan berubah menjadi MAHARAKSASA.
 

Selasa, 08 Oktober 2013

"KIBLAT PAPAT KALIMA PANCER"



Kearifan Lokal Wong Jawa yang sering Disalahartikan # Part 2

Kakang Kawah, Adi  Ari-ari....dst.” tentu kalimat itu sudah bukan sesuatu  yang asing ditelinga orang jawa. Jika mendengar kalimat tersebut pasti di benak kita langsung terlintas “Sedulur Papat” (saudara empat). Bahkan beberapa pihak pasti akan langsung menghakimi bahwa hal tersebut merupakan klenik, karena kalimat tersebut sering diartikan sebagai mantra atau nyambat (merapal) kepada kekuatan –kekuatan ghaib, yang tidak lain adalah saudara manusia itu sendiri. Apakah benar demikian?tentu kita kembalikan kepada masing-masing individu, pada kesempatan ini kita akan mencoba mengungkap pengertian Kiblat Papat (saudara empat) dari sudut pandang kasunyatan bukan gugon tuhon. Gugon Tuhon bisa dimaknai sebagai sikap yang mengikuti dengan setia dan tanpa penolakan sedikitpun. Biasanya gugon tuhon meliputi tiga hal yaitu larangan (wewaler), menyembunyikan pitutur baik tetapi tanpa alasan, penyampaian pesan dan alasan yang tidak masuk akal.1 Pendekatan yang dilakukan dalam pembahasan menggunakan pendekatan maknawi. Kenapa? Karena karakter orang Jawa yang terbiasa mengungkapkan melalui simbol/pralambang, seperti yang sudah disampaikan pada postingan sebelumnya (Kearifan Lokal Wong Jawa yang sering disalah artikan).
“Sedulur Papat Kalima Pancer” (saudara empat dan yang kelima sebagai pusat) oleh Orang Jawa sering dikenal dengan “saudara badan halus” yang terdiri dari Kawah (ketuban), Ari-ari (Plasenta), Getih (Darah) dan Pusar. Lantas yang kelima siapa?yang kelima adalah badan jasmani (Diri). Keempat hal tadi dikatakan saudara bagi setiap manusia, kok bisa?karena keempat hal tersebut keluar bersamaan dengan manusia ketika dilahirkan. Secara bahasa Sa – udara (satu udara) keluar dari satu lubang udara. Bahkan sejak masa kehamilan merekalah yang setia menjaga pertumbuhan janin. Merekalah saudara dari setiap manusia yang dengan setia merawat ketika masih berada didalam kandungan. Secara Ilmu Kedokteran, Ketuban, Ari-ari (Plasenta), darah dan Pusar masing-masing memiliki peranan penting ketika masih didalam kandungan dan pertumbuhan janin. Berikut fungsi dan peranan masing-masing ketika dalam menjaga si janin :
1.        Ketuban
  • Sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan.
  • Melindungi dan mencegah tali pusat dari kekeringan, yang dapat menyebabkannya mengerut sehingga menghambat penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin.
  • Berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara.
  • Memungkinkan janin bergerak lebih bebas, membantu sistem pencernaan janin, sistem otot dan tulang rangka, serta sistem pernapasan janin agar berkembang dengan baik.
·            Menjadi inkubator yang sangat istimewa dalam menjaga kehangatan di sekitar janin.
Selaput ketuban dengan cairan ketuban di dalamnya merupakan penahan janin dan rahim terhadap kemungkinan infeksi2.
  • Pada waktu persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka.
  • Dan saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir.
2.    Plasenta / Ari-Ari
Pertukaran produk-produk metabolisme dan produk gas antara peredaran darah ibu dan janin, serta produksi hormon. Hormon steroid paling penting yang diproduksi plasenta adalah estrogen dan progesteron yang konsentrasinya meningkat selama kehamilan3.

3.    Darah
Darah mempunyai fungsi yang vital, darah mempunyai peranan untuk menyalurkan darah, nutrisi dan segala kebutuhan manusia melalui pembuluh darah. Darah juga mempunyai peranan penting untuk perkembangan otak dan tulang sumsung belakang. 

4.    Pusar
Jaringan pengikat yang menghubungkan plasenta dan fetus (janin).Fungsi dari tali pusat adalah menjaga viabilitas (kelangsungan hidup) dan memfasilitasi pertumbuhan embrio dan janin.Pembuangan senyawa sisa, serta pengangkutan oksigen, nutrisi, dan faktor pertumbuhan untuk janin berlangsung melalui tali pusat. Tali pusat tersusun dari 90% air dan terhubung dengan cakram intervertebral (80%) serta kartilago, tulang rawan sendi (95%). Setelah bayi dilahirkan, tali pusat umumnya dijepit dan dipotong kemudian dibiarkan terpapar di udara untuk pengeringan. Dalam waktu 24 jam, warna putih kebiruan dari tali pusat akan hilang dan menjadi hitam setelah beberapa hari4

 
Ilustrasi Bayi usia 8 bulan


Sudut pandang dari sisi medis ini, ternyata sudah diketahui oleh Orang Jawa sejak lama. Hal ini bisa kita ketahui dari petilan bait tembang Sunan Kalijaga5
Ana Kidung akadang premati,
Among tuwuh ing kuwasanira,
Nganakaken saciptane,
Kakang kawah puniku,
Kang rumeksa ing awak mami,
Anekakaken sedya,
Pan kuwasanipun
Adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah//
Ponang Getih ing Rahina Wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu-uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

“Ada sabda tentang saudara kita yang merawat dengan sungguh-sungguh. Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu, yang menjaga badan saya. Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya. Dinda ari-ari itu, yang memayungi semua tindakan berdasarkan kekuasaannya / yang menyampaikan tujuan.
Sedangkan darah siang dan malam membantu Allah yang kuasa. Mewujudkan Kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya, memperhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaanku. Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah empat saudara saya, kelimanya sebagai pusat. Sudah menjadi satu. Manunggal dengan wujudku.

Ketika proses persalinan pada wanita, maka yang akan keluar pertama adalah Ketuban, hal ini sering kita kenal dengan istilah pecah ketuban dan kemudian diikuti dengan kontraksi (His istilah medis) yang akan menyebabkan terjadinya pembukaan lubang jalan lahir, hingga si bayi akhirnya terlahir. Hal inilah yang disebut sebagai kakang (kakak) saudara tertua manusia, karena pecahnya ketuban merupakan tanda awal proses persalinan yang berfungsi untuk melicinkan jalan bayi dalam persalinan. Ketika seorang bayi lahir, maka diikuti dengan plasenta karena ini plasenta/ari-ari disebut sebagai saudara kandung kedua, kemudian diikuti dengan 2 saudara sekandung lainnya darah dan pusar (tali pusar). maka dari itu jika ada pertanyaan apakah saudara empat itu ada?jika ditinjau dari pengertian Saudara (satu udara) maka jelas adanya, bahkan secara kasat mata dapat kita lihat dengan jelas ketika didalam kandungan ataupun ketika seorang bayi terlahir.

Secara maknawi, saudara empat ini merupakan penjelasan proses terlahirnya manusia atau dengan kata lain sebagai awalan mengenai pengertian “sangkan paraning dumadi”.  Lantas bagaimana bisa keempat saudara tadi disebut sebagai penjaga manusia?bukankah keempatnya jika bayi sudah dilahirkan, menurut adat biasanya keempat hal tadi dipendam atau dihanyutkan yang berarti bagian dari organ-organ itu sudah mati, sudah tidak berguna?secara jasad jelas organ-organ tersebut sudah tidak berguna, tetapi sekali lagi kita berbicara mengenai kebiasaan orang jawa yang selalu mengungkapkan dengan lambang/ simbol. Bukan wujud fisiknya sebagai penjaga namun makna dibalik dari semua proses yang telah terlewati. Berikut gambaran dari masing-masing yang dimaksudkan :

1.        Kakang Kawah (ketuban)
Keluar dari guwagarba ibu, sebelum bayi lahir. Cairan ketuban berwarna putih bening. Dilambangkan sebagai arah timur dan berwarna putih. Seperti yang sudah dijelaskan di atas secara medis ketuban merupakan tempat yang menampung si bayi untuk tumbuh dan berkembang. Oleh Sunan Kalijaga, Kakang kawah disebut sebagai “rumeksa sedya5 yang bermakna membantu mencapai semua usaha dan keinginan. Dilambangkan sebagai arah timur karena berasal dari pemaknaan “kawitono” yang bermakna permulaan / awalan. Dari kata kawitana  ini dijadikan sebagai wetan (timur).6

2.        Adi Ari-ari (plasenta)
Keluar dari guwagarba ibu bayi setelah bayi lahir. Ari-ari berwarna kekuningan, maka ari-ari dilambangkan sebagai warna kuning dan sebagai arah barat. Ketika bayi terlahir maka dia akan keluar bersamaan dengan plasenta, ia mengantar sampai dengan tujuan yaitu terlahir dengan selamat disertai pengorbanan dirinya5. Ari-ari / plasenta disini bermakna sebagai “pengarah”  dan berusaha selalu menyenangkan manusia. Perlambangan arah barat dikarenakan dari pemaknaan “alon-alon” (pelan-pelan)6. Ketika setelah pecahnya ketuban, maka proses diawali dengan mulai membukanya lubang jalan keluar bayi secara perlahan-perlahan hingga sampai dengan siap biasanya masyarakat umum menyebutnya dengan “bukaan sanga” (pembukaan yang ke 9). Sedangkan ditinjau dari sisi medis ini dikenal dengan proses Kala I yaitu terbukanya jalan lahir dengan lebar kurang lebih 10 cm, sebagai penanda proses bayi siap dikeluarkan. Biasanya proses terbentuknya Kala I sampai dengan sempurna membutuhkan waktu kurang lebih 12-14 jam pada kehamilan pertama dan 6-10 jam pada kehamilan berikutnya7. Dari proses yang sangat lambat atau pelan (alon-alon) dilambangkan (di sanepakan : bahasa jawa) sebagai kulon (barat)6.

3.        Getih / Darah
Keluar dari guwagarba ibu waktu melahirkan, darah dilambangkan sebagai warna merah dan sebagai arah selatan. Darah mempunyai fungsi vital dalam perkembangan otak dan organ-organ penting lainnya, dalam hal ini bermakna sebagai “penguat karsamu5. Kok bisa?lihat baik-baik kalimat “siang dan malam darah membantu Allah”. Hal ini menunjukkan adanya sunnatullah dalam proses penciptaan manusia. Seorang manusia akan tercipta melalui sabdaNya “kun faya kun” namun bukan berarti akan tercipta secara langsung seperti halnya seorang tukang sulap (bim sala bim)8, namun sabdaNya akan selalu menyertai pada apa yang disabda, sehingga dengan kehendak Allah darah mempunyai peranan untuk menumbuhkembangkan janin hingga menjadi bayi. Sedangkan pemaknaan arah selatan diawali dengan pemahaman (njedul : bahasa jawa), setelah lengkap proses pembukaan pada jalan lahir bayi pada seorang ibu, maka kepala si bayi pun mulai keluar / kelihatan . Karena itu dimaknai sebagai Kidul (selatan).

4.        Pusar
Pusar merupakan pusat pertumbuhan pada janin, karena tali pusar ini berfungsi sebagai tempat penyaluran nutrisi dari Ibu. Berkaitan dengan fungsi tersebut, pusar dimaknai sebagai “nuruti panedo5 maksudnya, melalui tali pusar ini si janin mendapatkan pasokan makanan, maka dari itu pusar mempunyai fungsi untuk memenuhi permintaan si jabang bayi. Pusar dilambangkan sebagai warna hitam dan sebagai arah utara. Kenapa warna hitam??karena memang pada kenyataannya, pusar yang telah dipotong lama-kelamaan akan berwarna hitam. Pusar dimaknai sebagai perlambangan arah utara (lor:bahasa jawa). Hal ini dikarenakan, setelah mulai keluarnya kepala bayi karena dorongan dari si Ibu, maka dokter / bidan yang membantu persalinan akan membantu menarik kepala bayi agar bagian tubuhnya akan keluar semua dari lubang jalan lahir si ibu dan diikuti dengan keluarnya tali pusar yang panjang. Proses yang demikian oleh orang jawa dikenal dengan istilah ndedel-modot-molor.6 Karena tertariknya seluruh tubuh bayi dari lubang keluarnya, maka ikut tertarik juga tali pusar yang panjang yang akhirnya harus dipotong. Yang demikian dimaknai sebagai Lor (Utara).6

Ilustrasi Hubungan Hawa Nafsu (kuda) dengan telenging rasa (sais)

Dari apa yang telah disampaikan di atas, yang dimaksud dengan “saudara badan halus” bukanlah sosok ghaib atau apapun namanya, melainkan filosofi atau penggambaran dari Nafs (Hawa). Gambaran adanya empat arah dan warna merupakan filosofi dari macam-macam Nafs beserta karakternya. Al-Nafs Muthmainnah  merupakan nafsu positif, karena memiliki kecenderungan untuk tunduk pada roh suci9. Maka dari itu Muthmainnah digambarkan sebagai warna putih (ketuban). Nafsu Sufiyah digambarkan sebagai warna kuning dari plasenta/ari-ari seperti yang telah disampaikan sebelumnya, plasenta / ari-ari bermakna selalu menyenangkan. Maka dari itu karakter sufiyah cenderung untuk mengejar kenikmatan psikis contoh seks, sombong, narsis dan sebagainya9. Nafsu Amarah digambarkan sebagai warna merah, perwujudan dari makna darah. Ketika sedang marah tentu kinerja jantung akan bekerja lebih cepat, maka darah pun akan semakin mengaliri semua pembuluh darah yang ada ditubuh sehingga ekspresi manusia akan sangat terlihat dengan jelas ketika mereka sedang marah. Nafsu Lauwamah dilambangkan sebagai warna hitam yang merupakan gambaran dari pusar.  nafsu lauwamah ini cenderung terikat kepada kepuasan biologis, seperti makan, minum, tidur dan sebagainya.9
Jika dikatakan saudara empat (sedulur papat) akan selalu menyertai manusia apakah ini benar?tentu benar jika saudara empat tadi dimaknai sebagai nafs (hawa). Nafs akan selalu mendampingi setiap manusia sampai kapanpun. Keempat nafs ini akan selalu tarik menarik karena memang inilah kodrat manusia, karenanya dibutuhkan keseimbangan agar manusia tidak terombang-ambing dalam ikatan antar nafs. Sebagai penyeimbang dari semuanya, dibutuhkan pancer atau pusat. Maka dari itu hati manusia yang terdalam (teleng / fu’ad ; mata hati) inilah yang disebut sebagai pancer. Digambarkan hubungan antara nafs dengan hati (telenging rasa-red) ibarat seperti seorang Sais (kusir) yang mengendalikan empat kuda yang terdiri dari Kuda warna putih, Kuda warna Kuning, Kuda Warna Merah dan Kuda Warna Hitam10. Sais digambarkan sebagai fu’ad (mata hati;telenging rasa) dan keempat kuda merupakan gambaran dari nafs (hawa), Kereta digambarkan sebagai badan wadag manusia, dan Sang Penunggang Kereta digambarkan sebagai Roh. Jika keempat kuda dapat “dikendalikan” dan dijaga “keseimbangannya” tentu si sais dapat mengantarkan Sang Penunggang Kereta sampai dengan tujuan akhirNya. Sebuah logika mendasar dari perumpamaan diatas, kereta tentunya akan mengikuti kemanapun dia ditarik oleh kuda sebagai penarik/penggerak. Itulah gambaran sejati dari badan wadag manusia yang penuh dengan nafsu, angan-angan dan keinginan (watak ala; sifat jelek). Oleh karena itu kita diminta untuk mesu budi, manekung, sembahyang, sholat atau apapun namanya yang pada intinya merupakan latihan olah rasa, untuk menemukan si sais (telenging roso/fu’ad), suatu tempat yang penuh Nur Illahiah. Perpaduan antara Roh Suci yang pada dasarnya merupakan Nur Muhammad (watak kang becik: sifat baik dan penuh kemuliaan) dengan “Kelihaian” Hati (teleng ; fu’ad) dalam mengendalikan hawa nafsu, akan menghasilkan insan-insan yang berbudi luhur, yang tercermin dalam sikap dan perbuatannya. Hal ini dikenal dengan istilah Sikap Batin tercermin dalam sikap lahir, Sikap Lahir luruh dalam Sikap Batin


Ilustrasi Hawa Nafsu yang tidak terkontrol (watak ala)
Namun sebaliknya, jika hati seorang manusia tidak “sehat” dan bersikap sembrono (ora eling lan waspada) maka yang terjadi “keempat Kuda” akan menjadi liar (mbedhal:bahasa jawa) menerjang kesusilaan yang pada dasarnya ada pada Hati manusia.10 Watak yang ada pada Roh Suci dapat tertutup dengan besarnya hawa nafsu yang tak terkendali, hati menjadi gelap dan pada akhirnya melanggar seluruh aturan-aturan (angger-angger) tentang kebajikan, kesusilaan, dan keadilan. 

Dengan demikian konsep Kiblat Papat Kalimo Pancer apakah masih dianggap klenik???monggo dipunpenggalih piyambak-piyambak..tetapi yang pasti konsep ajaran Kiblat Papat Kalima Pancer merupakan ajaran luhur wong Jawa. Ajaran yang sangat realistis, ajaran ngelmu kasampurnan yang didasari ngelmu kasunyatan bukan karena gugon tuhon

Rahayu Sagung Dumadi...Rahayu Langgeng Bawana... Salam Budaya.

Pustaka :
1.  http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/12/gugon-tuhon.html
4.  http://id.wikipedia.org/wiki/Tali_pusat
5. Chodjim, Achmad; 2003; Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga; Saudara Empat; 98-102; Serambi; Jakarta
6.  http://liursendawa.blogspot.com/2011/11/dumadine-kiblat-4-limo-pacer.html
7.  http://bidanku.com/tahapan-proses-persalinan
8.  Wejangan Bp. Drs. Mochammad Ngemron, MS.Psi.
9.  http://sabdalangit.wordpress/wirid-purba-jati
10.Mertowardojo, Soenarto;1998; Bawa Raos Ing Salebeting Raos; 49; Paguyuban Esti Tunggal; Jakarta